Jumlah Orang Kaya Melonjak tapi Kelas Menengah Menyusut

---
Indonesia tengah menghadapi sebuah paradoks ekonomi yang mengkhawatirkan: di satu sisi, kelas menengah menyusut secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir, sementara di sisi lain jumlah orang super kaya justru diprediksi meroket ke level tertinggi di dunia. Dua tren yang berjalan berlawanan ini memunculkan pertanyaan besar — ke mana arah pembangunan ekonomi Indonesia sesungguhnya?
---
Orang Super Kaya di Indonesia Diprediksi Tumbuh Tercepat di Dunia
Laporan The Wealth Report 2026 yang dirilis oleh Knight Frank mengungkap angka yang cukup mengejutkan. Populasi Ultra High Net Worth Individual (UHNWI) — individu dengan kekayaan bersih di atas US$30 juta — di Indonesia diproyeksikan melonjak sebesar 82% hingga tahun 2031 [3].
Dalam angka absolut, jumlah individu tersebut diprediksi tumbuh dari 3.833 orang menjadi 6.966 orang pada 2031 [8]. Pertumbuhan ini bukan hanya signifikan secara domestik, tetapi juga menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan laju pertumbuhan orang super kaya tercepat di dunia [2].
Perbandingan dengan Negara Lain
- Pertumbuhan UHNWI Indonesia diprediksi mencapai 82% dalam lima tahun ke depan [3].
- Angka ini jauh melampaui negara-negara seperti Arab Saudi dan Polandia yang diproyeksikan mencatat pertumbuhan sekitar 60% [2].
- Pertumbuhan ini didorong utamanya oleh akumulasi kekayaan di sektor komoditas dan teknologi padat modal [3].
---
Kelas Menengah RI Terus Menyusut: Seberapa Parah?
Di sisi yang berlawanan, data menunjukkan bahwa jumlah kelas menengah RI turun secara nyata. Bank Dunia telah mengeluarkan peringatan serius bahwa tulang punggung ekonomi Indonesia ini terus mengalami penyusutan [5].
Universitas Gadjah Mada mencatat bahwa dalam satu tahun saja, terjadi penurunan sebesar 1,2 juta orang dari kelompok kelas menengah [7]. Meskipun angka ini mungkin terlihat kecil secara proporsional, para ekonom mengingatkan bahwa penurunan ini berpotensi memperlambat mesin mobilitas sosial secara keseluruhan [7].
Apa yang Terjadi pada Mereka yang "Turun Kelas"?
Mereka yang keluar dari kelas menengah tidak serta-merta masuk ke kelompok miskin, tetapi masuk ke zona rentan yang disebut aspiring middle class atau bahkan kembali ke kelompok near-poor. Tekanan yang mereka hadapi antara lain:
- Melonjaknya jumlah pekerja informal yang tidak memiliki jaminan pendapatan stabil [3].
- Tekanan kebijakan pajak domestik yang dinilai lebih membebani kelas menengah dibanding kelompok terkaya [3].
- Minimnya ketersediaan lapangan kerja formal yang berkualitas [7].
- Biaya hidup yang terus meningkat tanpa diimbangi kenaikan upah riil.
---
Paradoks Ekonomi RI: Negara Makin Kaya, Rakyat Makin Tertekan
Inilah inti dari paradoks ekonomi RI yang sedang diperdebatkan para ekonom dan pengamat kebijakan. Presiden Prabowo sendiri pernah menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi seharusnya berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyat, namun kenyataannya hanya segelintir orang yang benar-benar merasakan manfaat pertumbuhan tersebut [6].
Kondisi ini diperparah oleh temuan Bank Dunia yang mengungkap bahwa dengan standar pengukuran kemiskinan yang diperbarui, sebanyak 194,4 juta jiwa atau 68,91% dari total populasi Indonesia kini diklasifikasikan sebagai miskin [3]. Angka ini mengonfirmasi bahwa pertumbuhan ekonomi makro belum terdistribusi secara merata ke lapisan masyarakat bawah dan menengah.
---
Akar Masalah: Mengapa Ketimpangan Ekonomi Indonesia Kian Melebar?
Para ekonom menunjuk beberapa faktor struktural yang mendorong ketimpangan ekonomi Indonesia semakin dalam:
1. Struktur Ekonomi yang Tidak Inklusif
Kekayaan terkonsentrasi di sektor-sektor yang padat modal dan tidak banyak menyerap tenaga kerja, seperti komoditas tambang dan teknologi skala besar [3]. Hasilnya, keuntungan ekonomi mengalir ke pemilik modal, bukan ke pekerja.
2. Dominasi Sektor Informal
Melonjaknya pekerja informal berarti semakin banyak masyarakat yang bekerja tanpa kontrak tetap, tanpa BPJS, dan tanpa kepastian penghasilan [3]. Kelompok inilah yang paling rentan terpental dari kelas menengah.
3. Sistem Perpajakan yang Belum Optimal
Beban pajak saat ini dinilai tidak proporsional — kelas menengah menanggung beban yang relatif besar sementara kelompok terkaya belum dikenai instrumen pajak kekayaan yang memadai [3]. Para ekonom mendesak pemerintah untuk mengimplementasikan *pajak kekayaan (wealth tax) sebesar 2%* terhadap aset bersih para konglomerat [3].
4. Mobilitas Sosial yang Melambat
Penurunan jumlah kelas menengah secara langsung memperlambat mobilitas sosial. Ketika kelas menengah menyusut, berkurang pula kelompok yang mampu berinvestasi dalam pendidikan anak, membuka usaha kecil, dan mendorong konsumsi domestik [7].
---
Apa yang Perlu Dilakukan? Rekomendasi Para Ekonom
Ekonom dari berbagai lembaga, termasuk CORE Indonesia, telah menyuarakan perlunya langkah-langkah konkret untuk membalikkan tren ini [8][4]:
- Reformasi perpajakan dengan menerapkan pajak kekayaan progresif untuk mendistribusikan ulang akumulasi kekayaan [3].
- Perluasan lapangan kerja formal melalui insentif bagi industri padat karya [7].
- Perlindungan sosial yang lebih kuat bagi pekerja informal agar mereka tidak mudah terpental ke kelompok rentan.
- Investasi di sektor pendidikan dan kesehatan untuk memperkuat fondasi mobilitas sosial jangka panjang [7].
- Program gizi dan nutrisi anak seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) juga mendapat perhatian — untuk memahami bagaimana generasi muda merespons program ini, baca Gen Z Puas dengan MBG: Mengapa Generasi Muda Paling Mendukung Program Makan Bergizi Gratis? sebagai salah satu perspektif kebijakan sosial yang relevan.
---
Kesimpulan: Saatnya Bertindak Sebelum Jurang Makin Lebar
Fenomena meledaknya jumlah orang super kaya di Indonesia di tengah menyusutnya kelas menengah bukan sekadar statistik — ini adalah sinyal peringatan tentang arah pembangunan yang perlu dikoreksi. Ketika pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati segelintir orang sementara jutaan warga kelas menengah justru tertekan ke bawah, maka fondasi ekonomi nasional menjadi rapuh.
Sebagai masyarakat, penting bagi kita untuk terus mengikuti perkembangan kebijakan ekonomi, menyuarakan aspirasi kepada wakil rakyat, dan mendukung kebijakan yang benar-benar berpihak pada distribusi kesejahteraan yang adil. Bagikan artikel ini kepada orang-orang di sekitar Anda agar kesadaran tentang isu ini semakin luas.
---
Sources
[1] Jumlah orang super kaya di Indonesia diprediksi melonjak — https://www.instagram.com/reel/Daoh8CZBVLg/
[2] OrangSuperKaya #KelasMenengah #Indonesia — Sindonews via Threads — https://www.threads.com/@sindonews/post/DaqFRGPn37X
[3] Ketimpangan Nyata: Tren Ekonomi Prediksi Orang Super Kaya Bakal Melonjak 82% — https://afu.id/ekonomi/ketimpangan-nyata-tren-ekonomi-prediksi-orang-super-kaya-bakal-melonjak-82-bank-dunia-ungkap-kemiskinan-ri-melonjak
[4] Jumlah Orang Super Kaya Melonjak, Ekonom Ingatkan — YouTube — https://www.youtube.com/watch?v=qiQHV81iUPo
[5] Kenapa kelas menengah Indonesia terus menyusut? — Kompas via Facebook — https://www.facebook.com/KOMPAScom/videos/kenapa-kelas-menengah-indonesia-terus-menyusutrs/989907947380533/
[6] Anomali! Negara Tambah Kaya, Rakyat Miskin Tambah — Instagram — https://www.instagram.com/reel/DZ7IGCFSCs6/
[7] Jumlah Kelas Menengah RI Turun, Minimnya Ketersediaan Lapangan Pekerjaan — UGM — https://ugm.ac.id/id/berita/jumlah-kelas-menengah-ri-turun-minimnya-ketersediaan-lapangan-pekerjaan/
[8] Kelas menengah yang terus menyusut — Ekonom CORE Indonesia — Instagram — https://www.instagram.com/p/DaO8qANFBnh/
Lihat Berita Lainnya
Tim Redaksi SATU BERITA
Kami berkomitmen menyajikan informasi yang akurat, berimbang, dan mencerdaskan pembaca SATU BERITA.
Rekomendasi





