
Bagi masyarakat Hindu di Bali, Kajeng Kliwon bukanlah sekadar hari biasa. Hari ini dikenal angker, dipercaya sebagai waktu di mana para Leak berkumpul untuk mengasah kekuatan mistis mereka. Tapi, benarkah demikian?
Bagi masyarakat Hindu di Bali, Kajeng Kliwon bukanlah sekadar hari biasa. Hari ini dikenal angker, dipercaya sebagai waktu di mana para Leak berkumpul untuk mengasah kekuatan mistis mereka. Tapi, benarkah demikian?
Kajeng Kliwon adalah pertemuan antara dua energi alam semesta yang diyakini penuh dualitas: Kajeng dari Tri Wara dan Kliwon dari Panca Wara.
"Energi dari Bhuwana Agung atau alam semesta semuanya terealisasi dalam Bhuwana Alit atau tubuh manusia itu sendiri," ungkap Jro Mangku I Wayan Satra.
Kajeng Kliwon diperingati setiap 15 hari sekali, dan terbagi dalam tiga jenis: Kajeng Kliwon Uwudan, Enyitan, dan Pamelastali.
Setiap jenis memiliki momen spiritual tersendiri yang dipercaya memiliki kekuatan mistis yang berbeda.
Pada hari ini, umat Hindu di Bali menggelar upakara di rumah atau di tempat-tempat khusus, sesuai adat.
Ritual ini berdasarkan Lontar Cundarigama, yang menyebutkan pentingnya menghaturkan wangi-wangian di berbagai lokasi seperti sanggah, tempat tidur, dan halaman rumah.
Semua ini ditujukan untuk mendapatkan perlindungan dari Bhuta Bhucari, Kala Bhucari, dan Durga Bhucari.
Namun, misteri Kajeng Kliwon tidak berhenti di situ. Malam Kajeng Kliwon sering dianggap sebagai waktu sangkep atau rapat para Leak.
Para penganut ajaran Pangliyakan dikatakan berkumpul untuk melakukan ritual pemujaan kepada Shiva, Durga, dan Bhairawi.
Ritual ini sering dilakukan di tempat-tempat yang dianggap sakral, seperti Pura Dalem, Pura Prajapati, atau bahkan kuburan.
Kajeng Kliwon memang dipenuhi nuansa keramat. Ini adalah hari ketika kekuatan negatif dari dalam dan luar manusia sangat mudah muncul dan mengganggu kehidupan.
Oleh karena itu, upacara yadnya pada hari ini menjadi sangat penting, dengan harapan menjaga keseimbangan antara dunia sekala dan niskala, atau dunia nyata dan dunia spiritual.
Jadi, apakah benar bahwa Kajeng Kliwon adalah waktu berkumpulnya para Leak?
Bagi yang mempercayai, ritual dan kepercayaan ini bukan sekadar cerita, tetapi bagian dari keseimbangan hidup yang harus dijaga.
Semoga keseimbangan alam dan kehidupan manusia tetap terjaga, baik di dunia nyata maupun dunia tak kasat mata
Tim Redaksi SATU BERITA
Kami berkomitmen menyajikan informasi yang akurat, berimbang, dan mencerdaskan pembaca SATU BERITA.
Rekomendasi
Baca Juga

Dana Operasional Mandek, Dapur SPPG Sebatik Timur Tutup Sementara, Distribusi MBG ke 31 Sekolah Terganggu
Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Sebatik Timur, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, terpaksa menghentikan operasional sementara akibat belum cairnya dana operasional. Dampaknya, distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada 31 sekolah dan sejumlah penerima manfaat lainnya ikut terhenti.
Polres Metro Jakarta Pusat mengungkap jaringan peredaran obat keras ilegal yang beroperasi di sejumlah wilayah Jakarta Pusat. Dalam operasi yang dilakukan sepanjang Mei 2026, polisi menangkap 14 orang tersangka dan menyita ribuan butir obat keras yang diduga diedarkan tanpa izin.


