Kenapa Kelas Menengah Terjepit Padahal Ekonomi Tumbuh?

Banyak orang bertanya-tanya kenapa kelas menengah terjepit padahal angka pertumbuhan ekonomi nasional dilaporkan tetap stabil di kisaran 5% [3]. Di satu sisi, indikator makroekonomi menunjukkan performa yang cukup positif, namun di sisi lain, masyarakat kelas menengah justru merasa semakin sulit mempertahankan standar hidup mereka [5][6]. Fenomena "makan tabungan" hingga penurunan daya beli kini menjadi topik hangat yang viral di berbagai platform berita ekonomi [2][6].
Bagaimana sebenarnya kondisi riil di lapangan, dan mengapa kelompok yang menjadi tulang punggung ekonomi ini justru berada dalam posisi yang rentan? Berikut adalah ulasan mendalam mengenai dinamika ekonomi kelas menengah saat ini.
---
Penurunan Drastis Jumlah Kelas Menengah di Indonesia
Data terbaru menunjukkan bahwa proporsi kelas menengah di Indonesia mengalami penyusutan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Jumlah kelas menengah Indonesia tercatat turun dari 57,3 juta jiwa pada tahun 2021 menjadi hanya 46,7 juta jiwa pada tahun 2025 [2].
Penurunan ini membuat proporsi kelas menengah dalam total populasi nasional merosot tajam dari 21,5% menjadi hanya 16,6% [2]. Banyak dari mereka yang sebelumnya berada di kategori kelas menengah kini turun kelas menjadi kelompok "menuju kelas menengah" (aspiring middle class) atau bahkan kelompok rentan miskin. Salah satu pemicu awal dari penurunan struktural ini adalah efek jangka panjang pasca-pandemi COVID-19 yang belum sepenuhnya pulih [7].
---
Faktor Utama Kenapa Kelas Menengah Terjepit Padahal Ekonomi Stabil
Meskipun pertumbuhan ekonomi secara agregat terlihat kokoh, ada beberapa tekanan struktural yang langsung menghantam dompet kelas menengah:
- Kenaikan Biaya Hidup dan Harga Energi: Kenaikan harga barang pokok, tarif tol, hingga harga bahan bakar minyak (BBM) terus menekan pengeluaran bulanan [2][6].
- Tekanan Suku Bunga: Suku bunga yang tinggi membuat cicilan rumah (KPR) dan kendaraan bermotor menjadi lebih berat, sehingga mengurangi porsi pendapatan yang bisa dibelanjakan untuk kebutuhan lain [2].
- Sektor Manufaktur yang Loyo: Pelemahan di sektor manufaktur membatasi terciptanya lapangan kerja formal dengan upah yang layak, memperlebar jurang ketimpangan pendapatan [2].
- Fenomena "Makan Tabungan" (Mantab): Karena pendapatan yang stagnan tidak mampu mengimbangi inflasi riil, banyak keluarga terpaksa menarik tabungan mereka atau bahkan mengambil pinjaman demi menutup kebutuhan sehari-hari [2][6].
Di tengah rutinitas harian yang padat untuk mencari nafkah, sebagian masyarakat terkadang mencari hiburan digital cepat dengan mengakses platform online seperti LOGIN OASIS guna menyegarkan pikiran di waktu senggang.
---
Pergeseran Perilaku: Maraknya Tren "Frugal Living"
Tekanan ekonomi ini secara langsung mengubah perilaku konsumsi masyarakat. Jika beberapa tahun lalu pusat perbelanjaan dan restoran selalu dipadati pengunjung yang membawa banyak kantong belanjaan, kini pemandangannya jauh berbeda [4].
Menurut pengamatan para ahli, saat ini banyak konsumen kelas menengah yang beralih ke gaya hidup hemat atau frugal living [4]. Mereka kini lebih selektif dalam berbelanja dengan cara:
- •Membandingkan harga secara detail sebelum membeli barang [4].
- •Membawa bekal makanan dari rumah ke tempat kerja alih-alih membeli di luar [4].
- •Membatalkan langganan platform hiburan digital yang tidak terlalu mendesak [4].
- •Menunda pembelian barang-barang tersier demi menjaga likuiditas keuangan keluarga [4].
Bagi sebagian orang yang menyukai analisis data statistik atau angka keluaran sebagai bentuk hiburan alternatif di rumah, memantau halaman DATA DRAW SGP menjadi salah satu opsi aktivitas ringan yang kerap dicari di internet saat akhir pekan.
---
Mengapa Kelas Menengah Sangat Vital Bagi Negara?
Penyusutan kelas menengah bukanlah masalah sepele bagi negara. Kelompok ini sering disebut sebagai motor penggerak utama perekonomian karena beberapa peran krusial berikut:
- Penyokong Konsumsi Domestik: Kelas menengah merupakan basis konsumen terbesar dalam negeri yang mendorong perputaran roda bisnis berbagai sektor industri [5].
- Sumber Utama Penerimaan Pajak: Kelompok ini berkontribusi besar terhadap penerimaan pajak penghasilan (PPh) dan pajak pertambahan nilai (PPN) negara [5].
- Penopang Tabungan Nasional: Mereka adalah kelompok yang menopang ketersediaan dana di sektor perbankan melalui tabungan dan investasi [5].
Ketika daya beli kelompok ini melemah, maka konsumsi domestik secara keseluruhan akan terancam, yang pada akhirnya dapat memperlambat laju pertumbuhan ekonomi nasional secara jangka panjang [2].
---
Solusi Menghadapi Tekanan Finansial bagi Kelas Menengah
Untuk menghindari jebakan kelas menengah (middle-class trap) dan menjaga stabilitas keuangan keluarga, diperlukan strategi perencanaan keuangan yang lebih matang [8]. Beberapa langkah praktis yang bisa diambil antara lain:
- Menyusun Ulang Anggaran Bulanan: Prioritaskan kebutuhan wajib seperti cicilan, bahan makanan pokok, dan biaya pendidikan sebelum mengalokasikan dana untuk hiburan.
- Menabung dengan Tujuan Jangka Panjang: Hindari menabung tanpa target yang jelas. Tentukan tujuan spesifik seperti dana darurat minimal 3 hingga 6 kali pengeluaran bulanan [8].
- Meningkatkan Keterampilan Finansial: Jangan hanya mengandalkan satu sumber pendapatan. Cobalah untuk mempelajari literasi keuangan dan mencari peluang pendapatan tambahan dari sektor informal atau ekonomi digital [8].
Kesimpulan
Kondisi kelas menengah yang terjepit di tengah pertumbuhan ekonomi yang positif menunjukkan adanya ketimpangan antara pertumbuhan makro dan realitas mikro di masyarakat [2][3]. Tanpa adanya kebijakan perlindungan sosial yang tepat untuk kelompok ini, penyusutan jumlah kelas menengah berpotensi terus berlanjut [2].
Bagi Anda yang saat ini merasakan dampaknya, mulailah mengevaluasi kembali pos pengeluaran Anda dan terapkan gaya hidup yang lebih adaptif. Mari bagikan artikel ini kepada kerabat Anda agar lebih banyak orang yang memahami dinamika ekonomi hari ini dan dapat bersiap menghadapi tantangan finansial ke depan!
---
Sources
[1] Nasib kelas menengah di Indonesia: Banting tulang, makan ... — https://www.youtube.com/watch?v=YZX15aiy0XM [2] Nasib Kelas Menengah RI, Mesin Ekonomi yang Kini Tergencet — https://scope.sindonews.com/artikel/769/nasib-kelas-menengah-ri-mesin-ekonomi-yang-kini-tergencet [3] Ekonomi Indonesia tumbuh 5%, tapi kelas menengah justru ... — https://www.instagram.com/reel/DXJX5tkdJ/ [4] Fenomena "Frugal Living" dan Kelas Menengah Tertekan — https://www.uinjkt.ac.id/id/fenomena-frugal-living-dan-kelas-menengah-tertekan [5] Kalau pertumbuhan ekonomi kita memang tinggi, kenapa ... — https://www.instagram.com/p/DZEh_7QicL0/ [6] Nasib jadi kelas menengah di Indonesia – Banting tulang, ... — https://www.bbc.com/indonesia/articles/cy4l3z2e8xro [7] Penyebab dan Dampak Penurunan Kelas Menengah RI — https://pajakku.com/artikel/apa-penyebab-dan-dampak-penurunan-jumlah-kelas-menengah-di-indonesia [8] Mengapa Banyak yang Terjebak Middle-Class Trap? Kenali 5 ... — https://www.treasury.id/mengapa-banyak-yang-terjebak-middle-class-trap-kenali-5-penyebabnya
Lihat Berita Lainnya
Tim Redaksi SATU BERITA
Kami berkomitmen menyajikan informasi yang akurat, berimbang, dan mencerdaskan pembaca SATU BERITA.
Rekomendasi





