PPATK Sebut Transaksi Judi Online Turun di 2025: Sejarah Baru

PPATK Sebut Transaksi Judi Online Turun di 2025: Sejarah Baru
Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menyatakan transaksi judi online di Indonesia menurun pada 2025.
Kepala PPATK Ivan Yustiavandana menyebut penurunan itu merupakan sejarah baru Indonesia dalam menekan transaksi judi online
"Bapak-bapak, ibu-ibu, terima kasih bahwa tahun 2025 adalah sejarah baru, dan baru pertama kalinya Indonesia berhasil menekan transaksi terkait judi online," kata Ivan dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR RI, Selasa (3/2).
Namun, Ivan tidak menjelaskan lebih lanjut besaran penurunan transaksi itu.
Dalam paparannya, Ivan mengatakan PPATK sebagai focal point rezim anti pencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme dan pendanaan proliferasi senjata pemusnah massal (APUPPT PPSPM) di Indonesia, telah menerima 43.723.386 laporan sepanjang 2025.
Jumlah itu meningkat 25,5 persen dari tahun 2024 yang sebesar 35.650.984 laporan.
PPATK menerima 21.861 laporan per jam di hari kerja. Angka itu meningkat dibandingkan dengan tahun 2024 yang hanya sebesar 17.825 laporan per jam.
"Selain itu, PPATK telah menyampaikan 994 hasil analisis, 17 hasil pemeriksaan, serta 529 informasi kepada penyidik dan kementerian terkait dengan total perputaran dana yang dianalisis mencapai Rp2.085 triliun, atau meningkat 42 persen dari tahun 2024 sebesar Rp1.459,6 triliun," katanya.
Tim Redaksi SATU BERITA
Kami berkomitmen menyajikan informasi yang akurat, berimbang, dan mencerdaskan pembaca SATU BERITA.
Rekomendasi
Baca Juga
Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah muncul evaluasi terkait operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Sejumlah pihak menilai terdapat potensi pemborosan anggaran yang nilainya disebut bisa mencapai Rp 1 triliun per bulan apabila tata kelola program tidak segera diperbaiki.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan konflik dengan Iran telah memasuki fase akhir dan mengumumkan pembatalan rencana serangan militer besar yang sebelumnya disiapkan. Keputusan tersebut disebut diambil setelah adanya perkembangan dalam jalur diplomasi antara kedua negara.



