Purbaya soal Bank Dunia Proyeksikan Ekonomi RI Turun: Dia Minta Maaf

Purbaya soal Bank Dunia Proyeksikan Ekonomi RI Turun: Dia Minta Maaf
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pejabat Bank Dunia sempat meminta maaf usai menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Hal itu disampaikan Purbaya setelah bertemu langsung dengan pihak yang menyusun outlook tersebut dalam rangkaian pertemuan di Washington DC, Amerika Serikat.
“Saya ketemu yang memprediksi itu. Dia minta maaf, katanya terlalu cepat menurunkannya,” ujar Purbaya wawancara eksklusif Kompas TV, Jumat (17/4/2026).
Purbaya mengungkap, permintaan maaf itu disampaikan berulang kali.
Baca juga: Bank Dunia Revisi Turun Proyeksi Ekonomi Indonesia Jadi 4,7 Persen pada 2026, Tetap di Atas Rata-rata Kawasan
Menurut cerita Purbaya proyeksi tersebut terbit tanpa sepengetahuan atasan ekonom tersebut di Indonesia.
"Dia bilang itu di-publish tanpa laporan ke bosnya dahulu, bosnya dia yang di Indonesia," kata Purbaya
Meski demikian, Purbaya menegaskan pemerintah tidak meminta revisi dalam waktu dekat.
Baca juga: Pemerintah Klaim Ekonomi RI Tidak Krisis di Tengah Gejolak Global: Jauh dengan Situasi 1998
Ia optimistis laju ekonomi nasional tetap bisa melampaui proyeksi yang ditetapkan sebelumnya.
“Fondasi ekonomi kita bagus dan kita akan tumbuh lebih cepat dari 4,8 persen. Walaupun ada gejolak global, kita bisa meredam, jadi ekonomi domestik tetap tumbuh baik,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa penurunan outlook tersebut terjadi tanpa melalui koordinasi penuh di internal lembaga tersebut.
Tim Redaksi SATU BERITA
Kami berkomitmen menyajikan informasi yang akurat, berimbang, dan mencerdaskan pembaca SATU BERITA.
Rekomendasi
Baca Juga
Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman memberikan apresiasi terhadap inovasi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Malang. Salah satu menu yang menarik perhatian adalah burger berbahan dasar singkong dan mikroprotein jamur yang dinilai memiliki cita rasa dan kandungan gizi yang baik.
Gelombang aksi mahasiswa yang terjadi di berbagai daerah menjadi sorotan publik. Di tengah berbagai persoalan ekonomi, sosial, dan tata kelola pemerintahan, mahasiswa kembali mengambil peran sebagai kelompok yang menyuarakan kritik serta tuntutan perubahan melalui demonstrasi dan gerakan advokasi.



