Trump Klaim Selat Hormuz Segera Dibuka Lagi saat AS dan Iran Menuju Perundingan

Trump Klaim Selat Hormuz Segera Dibuka Lagi saat AS dan Iran Menuju Perundingan
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Selat Hormuz akan dibuka kembali "cukup segera" dengan atau tanpa bantuan Iran, karena blokade efektif Teheran terhadap jalur air tersebut terus mengganggu pasokan energi global. Klaim itu diungkap Trump saat berbicara kepada wartawan pada hari Jumat (10/4/2026).
Menjelang pembicaraan damai antara pejabat AS dan Iran di Pakistan, Trump mengatakan AS akan "membuka Teluk" dan negara-negara lain siap untuk "membantu".
"Ini tidak akan mudah," kata Trump.
"Saya akan mengatakan ini: Kita akan membukanya cukup segera," tambahnya.
Trump, yang tidak menjelaskan bagaimana Washington akan membuka blokade jalur maritim penting tersebut, juga mengatakan dia tidak akan menerima pemberlakuan sistem pungutan tol de facto oleh Iran di selat tersebut.
Teheran telah mengindikasikan mereka bermaksud memungut biaya dari kapal untuk jalur aman bahkan jika kesepakatan tercapai dengan AS untuk mengakhiri perang.
“Jika mereka melakukan itu, kita tidak akan membiarkan itu terjadi,” tegas Trump kepada wartawan sebelum menaiki Air Force One di Pangkalan Gabungan Andrews di Camp Springs, Maryland.
Trump mengatakan memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir adalah prioritas dalam setiap perjanjian, dan selat itu akan terbuka “secara otomatis”.
“Tidak ada senjata nuklir, itu 99 persennya,” kata Trump.
“Selat itu akan terbuka,” tambahnya. “Jika kita pergi saja… jika tidak, mereka tidak akan menghasilkan uang.”
Meskipun pengumuman gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran pada hari Selasa, pengiriman di selat tersebut tetap terhenti, mengganggu sekitar seperlima aliran minyak dan gas alam global.
Tim Redaksi SATU BERITA
Kami berkomitmen menyajikan informasi yang akurat, berimbang, dan mencerdaskan pembaca SATU BERITA.
Rekomendasi
Baca Juga
Arus keluar modal asing dari pasar keuangan Indonesia kembali menjadi sorotan. Sejumlah investor global tercatat melepas kepemilikan saham maupun surat berharga Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, pergerakan suku bunga, serta perubahan strategi investasi internasional.
Yana Priatna, pemilik sekaligus pengelola Emeralda Resort, dilaporkan ke Polda Jawa Barat oleh sejumlah konsumen yang mengaku mengalami kerugian total mencapai Rp117 miliar. Laporan tersebut berkaitan dengan dugaan permasalahan investasi dan pengelolaan unit properti yang belum menemukan penyelesaian.



