Eks Diplomat Korut: Penyingkiran Maduro Buat Kim Jong Un Takluk pada Ancaman Serupa
Seorang mantan diplomat Korea Utara yang kini telah membelot mengatakan bahwa pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, mungkin merasa rentan setelah operasi Amerika Serikat yang menggulingkan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro. Lee Il-kyu — yang pernah menjabat sebagai penasihat politik di kedutaan Korut di Kuba dan kini tinggal di Korea Selatan — menilai bahwa kejadian dramatis itu bisa menjadi “skenario mimpi buruk” bagi Kim dan elit penguasa di Pyongyang.
Dalam wawancara dengan AFP, Lee menyatakan bahwa operasi cepat yang menyingkirkan Maduro di Caracas menunjukkan bahwa aksi semacam itu bukan hanya “teori ancaman” tetapi sesuatu yang bisa terjadi terhadap pemimpin negara yang dianggap berbahaya oleh kekuatan luar. Ia mengatakan bahwa Kim kemungkinan melihat hal ini sebagai bentuk ancaman “decapitation” atau upaya penyingkiran langsung terhadap pemimpin tertinggi.
Menurut eks diplomat tersebut, kejadian di Venezuela akan memicu kepanikan di kalangan elite keamanan Korea Utara yang sangat memprioritaskan stabilitas rezim serta keselamatan pribadi Kim Jong Un sendiri. Lee juga memprediksi bahwa Kim akan melakukan peninjauan menyeluruh terhadap sistem keamanan dan langkah antisipatif untuk menghadapi kemungkinan serangan terhadap dirinya.
Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan global yang meningkat, termasuk manuver militer Korea Utara yang kerap menguji rudal dan mempertahankan program nuklirnya sebagai pilar utama pertahanan negara terhadap tekanan dari Amerika Serikat dan sekutunya.



