Kota Berusia 1.700 Tahun Ini Dibangun dari Tanah, Dijuluki Manhattan Gurun
Sana’a – Di tengah hamparan gurun Lembah Hadramaut, berdiri sebuah kota kuno yang seluruh bangunannya terbuat dari tanah liat. Kota itu adalah Shibam, permukiman bersejarah yang telah ada lebih dari 1.700 tahun dan dikenal sebagai salah satu contoh arsitektur vertikal tertua di dunia.
Didirikan sekitar abad ke-3 Masehi, Shibam terkenal dengan deretan bangunan tinggi berbahan dasar bata lumpur (mudbrick). Beberapa di antaranya menjulang hingga 7–11 lantai, menjadikannya sering dijuluki sebagai “Manhattan dari Gurun”.
Keunikan Shibam terletak pada teknik konstruksi tradisionalnya. Bata lumpur yang digunakan dibuat dari campuran tanah liat, jerami, dan air, lalu dikeringkan di bawah terik matahari. Meski tampak sederhana, struktur ini terbukti mampu bertahan berabad-abad dengan perawatan rutin.
Menurut para sejarawan, konsep pembangunan vertikal di Shibam dilakukan untuk alasan keamanan. Pada masa lalu, ancaman serangan antarsuku cukup tinggi, sehingga warga membangun rumah-rumah tinggi yang saling berdekatan untuk memudahkan pertahanan.
Kota ini juga telah diakui sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO karena nilai sejarah dan arsitekturnya yang unik. Namun, kondisi konflik dan cuaca ekstrem dalam beberapa dekade terakhir menjadi tantangan besar bagi pelestarian bangunan-bangunan tanah tersebut.
Retakan akibat hujan lebat dan banjir kerap mengancam struktur bangunan. Tanpa perawatan berkala, material tanah liat dapat dengan mudah tergerus air. Organisasi pelestarian budaya internasional pun terus mendorong upaya restorasi agar kota bersejarah ini tetap berdiri kokoh.
Shibam menjadi bukti bahwa teknik arsitektur kuno berbasis material alami mampu menciptakan kota yang tidak hanya fungsional, tetapi juga berkelanjutan. Di tengah modernisasi dunia, kota dari tanah ini tetap menjadi saksi peradaban yang melampaui zaman.



