Pedagang Daging Sapi se-Jabodetabek Mogok Jualan hingga Sabtu, Kenapa?

Pedagang Daging Sapi se-Jabodetabek Mogok Jualan hingga Sabtu, Kenapa?
Pedagang daging sapi dan rumah pemotongan hewan (RPH) di Jabodetabek mogok berjualan mulai hari ini (22/1) hingga Sabtu (24/1) mendatang.
Aksi mogok dagang ini merupakan bentuk protes atas mahalnya harga timbang sapi hidup di feedloter. Tingginya harga membuat daya beli masyarakat turun.
Ketua Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (DPD APDI) DKI Jakarta Wahyu Purnama mengatakan harga sapi hidup yang mahal membuat harga karkas di rumah pemotongan hewan (RPH) ikut naik. Akibatnya, daya beli masyarakat ikut melemah,
"Maka, melalui surat ini maka kami memberitahukan bahwa seluruh anggota Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) bandar sapi potong dan pedagang daging akan melakukan aksi mogok dagang sebagai salah satu bentuk protes dan keprihatinan," ujar Wahyu dalam surat pemberitahuan aksi ke Mabes Polri
Namun nyatanya, imbuh Wahyu, jaminan kestabilan harga itu tidak terealisasi sehingga pedagang sapo dan RPH diseluruh Jabodetabek menggelar aksi protes dengan mogok dagang selama tiga hari.
"Kami berharap Menteri Pertanian dan Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) dapat segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga untuk hajat hidup orang banyak dan keberlangsungan UMKM di hilirisasi," ujarnya.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS Nasional), rata-rata harga daging sapi kualitas I hari ini naik Rp7.00 menjadi Rp149.250 per kg. Sedangkan daging sapi kualitas II naik Rp5.000 menjadi Rp139.600 per kg.
Tim Redaksi SATU BERITA
Kami berkomitmen menyajikan informasi yang akurat, berimbang, dan mencerdaskan pembaca SATU BERITA.
Rekomendasi
Baca Juga
Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Pekanbaru. Kebijakan ini disebut sebagai langkah tegas sekaligus evaluasi agar seluruh SPPG lain lebih disiplin dalam menjalankan standar operasional.
Menteri HAM Natalius Pigai menanggapi isu yang menyebut Kota Depok sebagai wilayah intoleran. Ia menegaskan bahwa penilaian tersebut tidak tepat dan tidak mencerminkan kondisi sosial masyarakat secara keseluruhan.



